Seratus Persen Bertanggungjawab


Pernahkah kita menyalahkan orang lain atau apapun untuk kejadian yang menimpa kita?
Ya, itu adalah sikap paling praktis yang kita ambil ketika kejadian buruk atau masalah menimpa pada diri kita. Kambing hitam memang paling enak, mau di sate, dibuat tongseng, atau gulai, tetap saja enak.

Tapi pernahkah kita tersandung batu dan terjatuh lalu menyalahkan gravitasi bumi?
Saya rasa belum pernah. Padahal gravitas adalah faktor utama yang membuat kita terjatuh. Bukan karena tersandung batu, karena meski tersandung batu tapi tidak ada gravitasi – maka kita tidak akan jatuh juga. Gravitasi bumi tidak pernah kita salahkan karena itu adalah hukum alam yang pasti dan diluar kuasa kita untuk merubahnya.

Contoh lain simpel dan bodoh : Anda tertabrak sepeda motor ngebut ketika berjalan di bahu jalan, bukan di trotoar. Secara praktis kita dan orang2 di sekitar kita akan menyalahkan sepeda motor yang kebut -kebutan. Padahal kita tahu, seandainya kita berjalan di trotoar, maka kita tidak akan pernah tertabrak.

Dari tiga penggalan di atas, saya pribadi menyimpulkan bahwa kita cenderung menyalahkan suatu faktor yang sebenarnya ada dalam kendali kita sendiri. Dan kita tidak pernah terpikir untuk menyalahkan faktor utama penyebab kejadian.

Tuhan membekali kita dengan radar tapi tidak banyak orang yang menggunakannya dengan baik. Misalkan kita sering keluar malam. Orang – orang disekitar kita akan mengingatkan agar kita mengenakan jaket. Inilah alarm yang dibunyikan oleh radar kita. Tapi kita tidak menghiraukannya, akibatnya flu hinggap. Oke .. memang takdir kita terkena flu, tapi kita sebenarnya bisa menghindarinya dengan mencermati peringatan orang lain kan?
Kita merasa lapar, karena perut kita kosong. Apabila tidak diisi, tentunya resiko terkena penyakit lambung akan semakin tinggi. Nah berarti Tuhan juga membekali kita dengan radar berupa perasaaan.

Jadi sebenarnya apapun yang menimpa kita, 100% adalah tanggungjawab kita sendiri. So jangan pernah menyalahkan apapun dan siapapun, karena kita juga 100% memegang kendali untuk bisa mengubahnya.

Advertisements

About piyecarane

Bla bla bla about me
This entry was posted in Personal. Bookmark the permalink.

3 Responses to Seratus Persen Bertanggungjawab

  1. arylangga says:

    he…hee…saya sudah sadar tentang hal itu..terimakasih ya…

  2. @del says:

    Ups…berasa tersindir niy 🙂 jatuh dari motor, flu, tersandung, kambing hitam…untung saya pinter, jadi bisa memahami maksud diatas 😀

  3. ike helidora says:

    menyadari dan mengakui kesalahan sendiri kadang tidak berlaku spontan, kita butuh waktu lama untuk menyadari kesalahan , saat hati kita merenungi akibat dari kesalahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s